Oleh: musmuliadi | April 12, 2010

Cara Cepat Mampu Berbahasa Inggris

Apakah anda sudah putus asa tidak bisa belajar bahasa Inggris (learning English)? Cobalah berpikir lagi. Apapun latar belakang atau pengalaman anda, anda DAPAT belajar berbicara bahasa lain dengan menggunakan enam teknik cepat.
Ada banyak cara yang bisa menjadi jembatan agar kita bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris: orang-orang di perjalanan, bisnis, pendidikan, hobbi, para teman atau keluarga.
Tetapi, “Dapatkah aku benar-benar mengembangkan ketrampilan-ketrampilan komunikatif dengan menggunakan lidah baru?” Jawabnya: DAPAT. Syaratnya anda harus melaksanakan dan mempraktekkan tips cepat ini dalam hidup sehari-hari.
1.Mengambil kursus pendek:
Sejumlah kursus-kursus bahasa sekarang tersedia di mana-mana, di universitas atau perguruan tinggi lokal. Internet demikian juga banyak yang memberi layanan kursus bahasa asing. Silakan ketik kata kunci seperti: learning English, atau belajar bahasa Inggris online, kursus bahasa Inggris, dsb. Nah, ambillah kursus bahasa Inggris ini untuk memulai usaha anda.
2.Mimicking:
“Mom, he’s mocking me!” “Ibu, ia sedang mengejek aku!” Pernahkah anda mendengar keluhan ini bila setelah adikmu yang paling kecil menirukan dari orang lain? Seseorang menirukan kata, bunyi – dalam pidato, termasuk segala aksi panggung. Itu disebut mimicking dan cara itu sangat efektif bagi anda untuk belajar speaking. Prosedur sangat sederhana, anda mengulangi persisnya, kata demi kata, segala yang dikatakan oleh model tersebut. Model itu penyiar berita, karakter di sebuah komedi, pembawa cerita atau narrator, suara yang berasal dari radio atau operator kaset. Jangan cemas jika hasilnya belum sempurna. Anda akan belajar dengan berbahasa Inggris dengan lidah. Anda akan memperoleh kecepatan dan menenangkan cara ini dengan praktek langsung. Anda akan melakukan lebih cepat dibanding yang anda kira.
3.Membaca Dengan Suara Keras:
Salah satu terik belajar bahasa Inggris membaca dengan keras. Bacalah teks-teks bahasa Inggris dengan suara keras. Teknik tangguh ini tidak hanya mengembangkan ketrampilan-ketrampilan pengucapan kata-kata, berperan untuk meningkatan keterampilan mendengarkan, tatabahasa dan kosa kata juga. Pelajarilah bahasa Inggris dengan membaca.
4. Menonton TV: Jika anda sudah berlangganan TV kabel, adakah sebuah stasiun menyiarkan di dalam bahasa Inggris yang anda adalah tertarik akan? Banyak stasiun TV yang menyiarkan acaranya dengan menggunakan bahasa Inggris. Nah Anda bisa belajar bahasa Inggris dari menonton TV itu.
5.Mendengarkan Musik:
Mendengar musik merupakan tips dan trik belajar bahasa Inggris yang menyenangkan. Anda juga tidak asing dengan lagu-lagu bahasa Inggris, kan. Pilihlah lagu dengan syair yang mudah dan dinyanyikan dengan tempo yang lebih lambat. Anda juga bisa melakukan dengan karaoke bersama teman atau keluarga. Dengan bantuan internet, bahkan, anda dapat mencari lagu-lagu bahasa Inggris secara online. Di internet anda dapat mnemukan ratusan bahkan ribuan nyanyian online
6.Membaca:
Berhenti di perpustakaan untuk meminjam buku-buku tata bahasa dan materi belajar bahasa Inggris. Tatabahasa merupakan pemandu yang baik dalam belajar bahasa Inggris. Dan membaca secara umum merupakan modal awal belajar bahasa Inggris. Membacalah artikel bahasa Inggris sebanyak mungkin, dan anda akan menuai hasilnya.
Membaca juga bisa dipahami sebagai memahami orang lain. Pergilah ke tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh para penutur bahasa Inggris, seperti di restaurant, supermarket, tempat wisata, forum chatting, klub bahasa Inggris, atau ke mana saja, yang memungkinkan

Kemampuan berbahasa Inggris merupakan salah satu kemampuan yang sangat menentukan dalam memperoleh lapangan kerja akhir-akhir ini. Fenomena inilah yang mendasari munculnya berbagai macam kursus Bahasa Inggris di seluruh wilayah Indonesia. Terlepas dari bagaimana sesungguhnya mutu dari kursus-kursus Bahasa Inggris yang ada di Indonesia ini, tersirat suatu keadaan yang memprihatinkan yaitu kurang baiknya mutu hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah-sekolah.

Mengapa penulis mengambil kesimpulan demikian? Tentunya bukan tanpa dasar. Secara logika, kita dapat mengajukan argumentasi bahwa tidak mungkin kursus-kursus Bahasa Inggris sedemikian menjamurnya di Indonesia jika hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah ternyata memuaskan. Jika demikian halnya, maka kursus Bahasa Inggris yang ada hanyalah yang ditujukan untuk kepentingan-kepentingan khusus seperti untuk memperoleh sertifikat TOEFL, IELTS, dan lain-lain serta bukan yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tapi kenyataannya, mayoritas kursus Bahasa Inggris yang ada adalah yang ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, bukan untuk tujuan-tujuan lain.

Keadaan ini tentunya menimbulkan masalah. Bagi para siswa yang datang dari keluarga menengah ke atas, masalah kesulitan berbahasa Inggris ini dapat diatasi dengan mudah. Mereka tinggal menunjuk kursus Bahasa Inggris mana saja yang mereka suka dan mulai belajar. Tetapi, bagaimana halnya dengan para siswa yang berasal dari kalangan bawah? Hal ini tentunya merupakan kesulitan tersendiri karena, kadang-kadang, jangankan untuk membayar uang kursus, untuk makanpun mereka masih harus mencari uang selepas sekolah. Lalu apa dampaknya? Tentu sangat jelas. Karena perusahaan-perusahaan papan atas yang ada di negara ini selalu mencantumkan persyaratan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu syarat untuk menjadi karyawan di perusahaan tersebut, maka hilanglah kesempatan para siswa yang berasal dari kalangan bawah ini untuk dapat masuk ke wilayah kerja yang dapat memberikan penghasilan yang lebih besar. Mereka akhirnya hanya dapat bekerja di perusahaan-perusahaan kecil yang tidak mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris dengan gaji yang sangat jauh tingkatannya dengan perusahaan asing. Dengan demikian, taraf kehidupan mereka tentunya tidak akan jauh berbeda dengan taraf kehidupan orang tua mereka sebelumnya.

Dengan memandang alasan-alasan tersebut di atas, apakah kita sebagai guru Bahasa Inggris tidak tergerak untuk berupaya meningkatkan kemampuan siswa berbahasa Inggris melalui pelajaran Bahasa Inggris di sekolah? Sebagai kalangan yang sering disebut-sebut sebagai Pahlawan tanpa Tanda Jasa, sangatlah tidak layak jika kita ingin dianggap sebagai pahlawan tetapi tidak berupaya untuk memajukan siswa-siswa kita. Di tengah-tengah munculnya fenomena segelintir guru-guru yang mengejar materi untuk kepentingan pribadi dengan memanfaatkan muridnya, marilah kita usik kembali jiwa pengabdian kita untuk berupaya meningkatkan hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah agar siswa-siswa kita yang berasal dari kalangan bawah tidak semakin terpuruk dan tidak akan kalah dari siswa-siswa lain yang berasal dari kalangan berada.

Masalah-Masalah yang Timbul dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Jika kita renungkan lebih dalam, adalah hal yang sangat luar biasa bahwa siswa yang telah belajar Bahasa Inggris selama minimal 6 tahun (sejak SMP) setelah lulus SMA masih tidak dapat berbicara dalam Bahasa Inggris, bahkan untuk memperkenalkan diri sendiri sekalipun. Disebut luar biasa karena jika siswa tersebut mengikuti kursus general english di suatu lembaga kursus dalam waktu yang sama, maka dapat dipastikan siswa sudah sangat mampu berbincang-bincang dalam Bahasa Inggris, bahkan mungkin sudah dapat memahami Bahasa Inggris untuk tingkatan drama, puisi, dan lain-lain. Jadi, mengapa hal ini bisa terjadi?

Berdasarkan hasil pengisian kuestioner yang penulis pernah buat pada tahun 1996 untuk tugas kuliah, terdapat beberapa masalah yang, menurut para siswa, menghambat mereka untuk menguasai Bahasa Inggris. Masalah-masalah tersebut adalah:

1. Jarangnya guru berbicara dengan Bahasa Inggris di dalam kelas. Hal ini dirasakan menghambat oleh para siswa karena menurut mereka, mereka jadi tidak terbiasa mendengar orang lain berbahasa Inggris.
2. Pelajaran terlalu ditekankan pada tata bahasa (dan bukan pada percakapan), tetapi siswa jarang diberi arahan mengenai bagaimana dan apa fungsi dari unsur-unsur tata bahasa yang mereka pelajari tersebut.
Berdasarkan hasil kuestioner dan hasil tes pada para siswa, terlihat bahwa rata-rata siswa menguasai pola-pola tata bahasa Inggris (misalnya struktur untuk simple present tense, dan lain-lain) tetapi, SISWA TIDAK MENGETAHUI KAPAN STRUKTUR TERSEBUT HARUS DIGUNAKAN DAN BAGAIMANA PENGAPLIKASIANNYA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI. Ini merupakan hal yang sangat luar biasa karena Bahasa Inggris, sama halnya seperti Bahasa Indonesia, akan lebih bermanfaat jika dapat digunakan dan diaplikasikan meskipun secara tata bahasa siswa tidak terlalu menguasainya. Bukan berarti bahwa pembelajaran tata bahasa ini tidak penting, tetapi perlu sekali teori-teori tersebut dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
3. Kosa kata yang diajarkan tidak terlalu berguna dalam percakapan sehari-hari. Banyak siswa yang mengeluhkan bahwa kata-kata yang diberikan oleh guru Bahasa Inggris di sekolah terlalu bersifat teknis, misalnya mengenai industrialisasi, reboisasi, dan lain-lain, sementara siswa tetap saja mengalami kesulitan untuk mengartikan kata-kata yang banyak digunakan pada film, majalah, dan situs-situs internet berbahasa Inggris. Bahkan kadang-kadang, siswa sangat hapal istilah-istilah Bahasa Inggris untuk bidang politik (seperti misalnya reformation, globalization, dan lain-lain) tetapi tidak dapat menyebutkan benda-benda yang biasa mereka pakai sehari-hari dalam Bahasa Inggris (misalnya celengan, selokan, dan lain-lain). Beberapa kalangan siswa bahkan mengatakan bahwa dengan kosa kata seperti yang dipelajari di sekolah tidak mungkin siswa dapat memulai percakapan dengan orang asing dengan menggunakan Bahasa Inggris. Mungkin ada benarnya juga, tidak mungkin tentunya kita tiba-tiba mengajak orang yang baru kita kenal untuk mendiskusikan industrialisasi, misalnya.
4. Materi pelajaran Bahasa Inggris di SMP dan SMU tidak berkesinambungan
Para siswa menyatakan bahwa sering terjadi pengulangan materi (seperti misalnya tenses) yang telah diajarkan di SMP di tingkatan SMU, tetapi tetap saja fungsi dan pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari kurang jelas.

Jadi, sebagai seorang guru Bahasa Inggris, apa yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut? Banyak tentunya, karena diakui atau tidak, gurulah yang memegang kendali dalam pengajaran. Yang jelas, kita tidak boleh hanya menyalahkan pihak pemerintah (yang membuat kurikulum) saja tetapi akan lebih baik jika kita mengintrospeksi diri sendiri dan lebih menggali lagi potensi kita untuk mencari pendekatan yang lebih berhasil dalam mengajarkan Bahasa Inggris pada siswa di sekolah.

Kesimpulan dan Saran
Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa masih banyak kendala yang harus dihadapi dalam upaya meningkatkan mutu hasil pengajaran Bahasa Inggris di sekolah. Untuk itu, penulis memiliki beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi para sesama pengajar Bahasa Inggris di Indonesia.

1. Selalu pertahankan kemampuan kita bercakap-cakap dalam Bahasa Inggris agar kelancaran berbahasa tetap terjaga. Hal ini perlu karena dapat memotivasi murid-murid kita untuk dapat berbicara dengan lancar. Mungkin sulit sekali jika kita tidak pernah bertemu dengan orang yang juga dapat berbahasa Inggris. Oleh karena itu, penulis memiliki usul agar para guru Bahasa Inggris ini memiliki semacam klub (conversation club) untuk ajang bertemu dan bertukar pikiran antar sesama guru Bahasa Inggris di wilayah yang sama. Dengan demikian, keahlian kita dalam menggunakan Bahasa Inggris akan selalu tetap terjaga.
2. Selalu menekankan fungsi dan aplikasi dari semua unsur tata bahasa yang kita terangkan kepada siswa. Pastikan bahwa siswa benar-benar mengerti kapan mereka harus menggunakan struktur tersebut.
3. Berikan tambahan kosa kata yang akan bermanfaat untuk percakapan sehari-hari pada siswa dan perkenalkan siswa dengan majalah-majalah remaja berbahasa Inggris agar mereka menjadi gemar membaca dan memperoleh banyak tambahan kosakata dari majalah tersebut. Dengan demikian, siswa akan percaya diri jika harus bergaul dengan remaja asing yang berbahasa Inggris.
4. Meskipun kita tidak memiliki kekuasaan untuk mengubah kurikulum, setidaknya pastikan bahwa pengulangan materi yang kita berikan merupakan pendalaman mengenai apa yang sudah dipelajari siswa dan bukan hanya mengulang tetapi tidak membuat siswa semakin bisa menerapkannya.

Demikian beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat untuk kita semua. Penulis akan merasa sangat senang jika artikel ini dapat menjadi pembuka forum tukar pendapat untuk para guru Bahasa Inggris. Semoga apa yang telah dipaparkan di atas memberikan manfaat bagi kita semua.

Oleh: musmuliadi | April 1, 2010

PRINSIP BELAJAR YANG EFEKTIF

Belajar bahasa Inggris tidak sulit, tetapi juga tidak semudah membalik telapak tangan. Yang penting adalah kemauan dan ketekunan. Pakar pembelajaran Bahasa Inggris, H. Douglas Brown mengemukan lima prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif berikut ini.
”Way of life”. Jika kita belajar bahasa Inggris di negeri tempat bahasa tersebut digunakan sebagai Bahasa Ibu, umumnya kita akan lebih cepat menguasai bahasa tersebut karena kita setiap hari dikelilingi oleh bahasa Inggris, dari bangun tidur sampai kembali ke tempat tidur. Hal ini disebabkan karena bahasa Inggris telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Demikian pula yang harus kita lakukan di Indonesia, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan efektif: kita harus menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian dari kehidupan kita. Artinya, kita harus mencoba menggunakannya setiap hari di mana mungkin. Untuk itu, kita bisa membaca, mendengar, ataupun berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris pada setiap kesempatan yang kita temui atau yang bisa kita ciptakan. Misalnya, kita bisa menyisihkan waktu tiap hari untuk baca satu artikel bahasa Inggris dalam satu hari. Kalau satu artikel belum mampu, satu paragraf atau satu kalimat per hari pun tidak jadi masalah. Kita jadikan kalimat tersebut kalimat kita hari itu, dan kita gunakan kalimat tersebut dalam segala kesempatan yang mungkin ada dalam hari itu. Atau, kita bisa juga meluangkan waktu untuk mendengarkan segala sesuatu dalam bahasa Inggris (lagu, berita, atau kaset-kaset berisi pembicaraan dalam bahasa Inggris) untuk membiasakan telinga kita terhadap bahasa asing tersebut. Yang bisa kita lakukan antara lain adalah mendengarkan kaset-kaset (baik lagu, pidato, presentasi, atau kaset pembelajaran dalam bahasa Inggris) di mobil sepanjang perjalanan dari rumah ke kantor atau sebaliknya. Kita juga bisa mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris (menulis memo, surat pendek, ataupun menulis rencana kerja yang akan kita lakukan selama seminggu atau untuk hari berikutnya). Pada prinsipnya, kelilingi hidup kita dengan bahasa Inggris yang topik-topiknya kita senangi atau kita butuhkan.
”Total commitment”. Untuk menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita, kita harus memiliki komitmen untuk melibatkan bahasa Inggris dalam hidup kita secara fisik, secara mental, dan secara emosional. Secara fisik, kita bisa mencoba mendengar, membaca, menulis, dan melatih pengucapan dalam bahasa Inggris, terus-menerus dan berulang-ulang. Secara mental atau intelektual, kita bisa mencoba berpikir dalam bahasa Inggris setiap kali kita menggunakan bahasa Inggris. Misalnya, dalam memahami bahasa Inggris, jangan kata per kata, tapi arti secara keseluruhan. Kita bisa mencoba mengenali beberapa ungkapan dalam bahasa Inggris yang memiliki arti yang kurang lebih sama, misalnya: How’re you?, How’s life?, How’s business? (jangan terpaku pada satu ungkapan saja). Dan, yang paling penting adalah keterlibatan kita secara emosional dengan bahasa Inggris, yaitu kita perlu memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar bahasa Inggris, dan kita perlu mencari ”hal-hal positif” yang bisa kita nikmati, ataupun yang bisa memberikan kita keuntungan jika kita mampu menguasai bahasa Inggris. Hal-hal ini akan memberikan energi yang luar biasa pada kita untuk tetap bersemangat belajar bahasa Inggris. Ketiga aspek (fisik, mental, dan emosional) ini harus kita libatkan secara total dalam proses belajar kita, jika kita ingin belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif.
”Trying”. Belajar bahasa adalah seperti belajar naik sepeda atau belajar menyetir mobil. Kita tidak bisa hanya membaca dan memahami ”buku manual” saja, tetapi kita harus mencoba menggunakannya. Pada tahap pembelajaran (tahap percobaan), sangat wajar jika kita melakukan kesalahan. Yang penting adalah mengetahui kesalahan yang kita lakukan dan memperbaikinya di kesempatan yang berikutnya. Akan lebih baik lagi jika pada saat mencoba kita mempunyai guru yang bisa memberitahu kita kesalahan yang kita lakukan. Guru tidak harus guru formal di sekolah atau kursus bahasa Inggris. Guru bisa saja sebuah kaset yang bisa kita dengarkan dan kita bandingkan dengan ucapan kita, sebuah buku pelajaran yang bisa kita baca dan cek jawabannya, atau bisa juga kenalan, ataupun kerabat yang bisa membantu kita jika kita ada masalah atau ada hal-hal yang ingin kita tanyakan. Kita tidak usah malu bertanya, dan tidak usah takut melakukan kesalahan. Dari pertanyaan yang kita ajukan dan dari kesalahan yang kita lakukan, kita bisa belajar banyak.
”Beyond class activities”. Jika kita belajar bahasa Inggris secara formal (di kelas, di kursus), biasanya jam-jam belajarnya terbatas: empat jam seminggu, enam jam seminggu ataupun delapan jam seminggu. Yang pasti jam belajar di kelas ini tentunya sangat terbatas. Agar belajar bisa lebih efektif, kita harus menciptakan kesempatan untuk ”belajar” juga di luar jam-jam belajar di kelas: berdiskusi dengan teman, mengunjungi websites yang menawarkan pembelajaran bahasa Inggris gratis, ataupun berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan teman-teman atau native speakers (baik melalui surat, email, ataupun percakapan langsung). Kita bisa juga mencoba membaca koran, majalah, buku-buku teks, mendengarkan radio, lagu, ataupun menonton acara-acara dan film. Agar proses belajar bisa lebih menarik, pilihlah topik-topik yang sesuai dengan minat kita, kebutuhan kita, ataupun yang berhubungan dengan latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang kita tekuni.
”Strategies”. Jika komitmen, keberanian mencoba, dan menjadikan bahasa Inggris sebagai bagian hidup telah kita terapkan, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi belajar yang tepat untuk menunjang proses belajar kita. Strategi ini bisa kita kembangkan dan kita sesuaikan dengan kepribadian dan gaya belajar kita masing-masing. Ada yang lebih mudah belajar dengan menggunakan ”cue-cards”, yaitu kartu-kartu kecil yang bertuliskan ungkapan atau kata-kata yang ingin kita kuasai disertai dengan contoh kalimat yang bisa menggunakan kata-kata tersebut. Kartu ini bisa kita bawa kemana pun kita pergi. Kapan pun ada kesempatan (pada saat menunggu taksi, menunggu makan siang disajikan, ataupun pada saat berada dalam kendaran yang sedang terjebak kemacetan), kita bisa mengambil kartu ini dan membacanya serta mencoba melakukan improvisasi dengan kata-kata baru dalam struktur kalimat yang sama. Ada pula orang yang lebih mudah belajar dengan langsung berkomunikasi lisan dengan orang lain atau native speakers. Dari komunikasi ini mereka bertanya, mendengar, dan memperbaiki ucapan dan meningkatkan kosa kata mereka dengan gaya belajar kita.

GAYA BELAJAR
Setiap orang memiliki gaya belajar yang berbeda. Gaya belajar ini terbentuk dari lingkungan dan kebiasaan kita sehari-hari. Jika kita mengenal gaya belajar kita, maka kita bisa memilih strategi belajar yang efektif, yang disesuaikan dengan gaya belajar kita masing-masing.
”Auditory learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar dengan mendengarkan, maka kita memiliki gaya belajar ”auditory.” Jika ini gaya belajar kita, maka kita bisa memperbanyak porsi belajar dengan mendengarkan, misalnya mendengarkan kaset-kaset pelajaran bahasa Inggris, lagu-lagu favorit kita, ataupun berita, pidato dalam bahasa Inggris. Kita juga bisa mendengarkan percakapan-percakapan dalam bahasa Inggris di film-film favorit yang kita tonton di bioskop, televisi, ataupun VCD. Dengarkan ucapan, ungkapan yang digunakan, perhatikan konteks ataupun situasi di mana kata-kata ataupun ungkapan tersebut digunakan. Lakukan hal ini berulang-ulang maka kita akan bertemu dengan ungkapan serupa yang dapat kita latih secara berkala, sehingga kita bisa makin mahir mengucapkan dan menggunakannya.
”Visual learners”. Jika kita termasuk orang yang lebih mudah belajar melalui input visual (gambar, tulisan), maka kita memiliki gaya belajar ”visual”. Banyak sekali strategi yang bisa kita lakukan. Kita bisa membaca artikel-artikel dalam bahasa Inggris yang kita anggap penting, dan menarik di surat kabar, majalah, ataupun internet, untuk kemudian kita coba ceritakan kembali dengan kata-kata yang kita susun sendiri, baik dalam bentuk tulisan ataupun dalam bentuk ucapan. Kita bisa juga membaca dan mempelajari contoh surat, proposal, brosur yang sering kita temui dalam melakukan pekerjaan kita. Untuk mencoba memahami suatu konsep abstrak, kita bisa menggambarkannya dalam bentuk visual: ”flow chart”, tabel, ataupun bentuk-bentuk visual lainnya.
”Kinesthetic learners”. Jika kita lebih suka belajar dengan melakukan sesuatu atau bergerak, maka kita bisa belajar dengan menggunakan komputer (di mana kita harus menekan tombol di keyboard, atau mouse), sehingga kita tidak cepat bosan. Kita bisa juga bergabung dengan perkumpulan-perkumpulan bahasa Inggris (English Club) yang memiliki banyak kegiatan dan permainan yang melibatkan gerakan. Yang juga bisa kita lakukan adalah belajar dengan menulis (menggerakkan tangan untuk menulis), atau mencoba memahami sebuah kata atau ungkapan dengan membayangkan gerakan yang bisa diasosiasikan dengan arti kata-kata tersebut.
Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu gaya belajar (misalnya auditory dan visual, atau visual dan kinesthetic). Apa pun gaya belajar kita, jika kita sudah mengenalnya, bisa kita cari dan terapkan strategi belajar yang disesuaikan dengan gaya belajar tersebut agar hasilnya bisa lebih efektif.

Oleh: musmuliadi | April 1, 2010

Metode Pembelajaran Bahasa Inggris di SLTP

PEMBELAJARAN Bahasa Inggris secara formal di SLTP mencakup empat kemampuan berbahasa yaitu berbicara (speaking), mendengar (listening), membaca (reading), dan menulis (writing) di samping aspek-aspek lain seperti kosa kata, tata bahasa dan ejaan. Aspek-aspek kebahasaan ini harus diperhatikan seorang guru bahasa Inggris dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan anak didik. Hal ini membutuhkan seorang guru yang kreatif dalam menumbuhkembangkan minat siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Inggris karena mata pelajaran ini kerap dirasakan sebagian peserta didik sebagai sebuah pelajaran yang tidak menarik.

Peranan seorang guru dalam mengatasi persoalan ini tergantung kreativitasnya menyajikan materi berupa penggunaan pola-pola atau metode pengajaran yang dapat menarik minat peserta didik dalam mempelajari Bahasa Inggris. Penerapan metode pengajaran harus disesuaikan dengan keadaan sekolah. Juga memperhatikan latar belakang kemampuan siswa. Baik dari segi akademis, psikologis, ekonomi maupun lingkungan anak didik sendiri. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan seorang guru dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Namun, sebelumnya, perlu diingat bahwa pendidikan tidak berproses dalam ruang hampa tetapi mengalami pergeseran yang terus meningkat dengan dunia sekitarnya.

Perkembangan pendidikan di Indonesia pada umumnya tercermin dari aneka metode pengajaran yang diciptakan, baik secara konstitusi maupun secara individual dari guru mata pelajaran yang dapat menunjang pembelajaran di sekolah. Metode pengajaran yang variatif sangat baik dikembangkan dan diterapkan dalam pengajaran Bahasa Inggris khususnya di SLTP. Hal ini dilakukan tanpa mengabaikan tingkat kemampuan (competency), daya, dan perkembangan siswa. Pasalnya, siswa sebagai anak didik yang masih remaja merupakan kelompok yang sedang berkembang menuju kematangan emosional dan intelektualnya. Pemilihan metode dan alat peraga juga sangat tergantung pada eksistensi siswa dalam lingkup pembelajaran itu sendiri. Variasi metode pengajaran yang digunakan akan menstimulasi siswa untuk lebih tanggap terhadap materi pengajaran yang diberikan. Di samping itu dengan adanya metode pengajaran yang bervariasi seperti game baik di dalam maupun di luar sekolah akan lebih melibatkan guru dengan berbagai kesulitan siswa dalam belajar Bahasa Inggris.

Pengalaman sebagai seorang guru bahasa Inggris SLTP baik di daerah pedalaman maupun di daerah perkotaan telah memberikan banyak perbedaan yang menunjukkan latar belakang siswa seperti yang telah disebutkan di atas. Misalnya, ketika mengajar Bahasa Inggris di pedalaman, seluruh materi pengajaran yang digunakan sama sekali tidak sesuai dengan pengalaman, lingkungan, dan ruang lingkup siswa yang masih bernuansa pedesaan yang belum tahu bahkan tidak tahu sama sekali tentang kehidupan perkotaan seperti Jakarta. Mengapa penulis katakan seperti itu karena bertolak dari pengalaman ketika mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris di pedalaman Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebagai seorang guru (mata pelajaran Bahasa Inggris), penulis harus berusaha maksimal untuk bisa menyesuaikan materi pengajaran yang tidak bergeser jauh dari kurikulum yang pada umumnya materi-materi penyajiannya bersifat Jakartacentris.

Di sini penulis mencoba beberapa metode yang saya terapkan dalam memberikan materi kepada siswa yang saya nilai cukup ampuh dalam mengatasi keawaman siswa menyangkut materi yang disodorkan Pusat. Pertama, Game ala rural. Metode ini berhubungan dengan pengembangan kosa kata yang identik dengan scrabble. Scrabble ala rural bukannya kumpulan huruf-huruf yang didesain secara canggih, di mana setiap huruf-hurufnya dilengkapi dengan magnet dan sebuah papan yang mewah tetapi huruf-huruf itu penulis mencoba menggunting sendiri dari kertas manila dengan sebuah tripleks yang bisa memungkinkan huruf-huruf tersebut bisa berpijak. Ternyata hasilnya memuaskan ketika siswa disodorkan satu topik kemudian mereka diminta untuk menyusun huruf-huruf tersebut menjadi kata yang berhubungan dengan tema yang telah ditentukan dengan limit waktu yang telah ditentukan pula. Dengan metode sederhana ini siswa lebih berminat untuk belajar dengan kondisi yang serba terbatas. Berbeda dengan siswa sekarang, khususnya di kota yang dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung pembelajaran.

Selain pembelajaran kosa kata melalui permainan scrabble, siswa juga dilatih untuk menulis karangan sederhana dengan menggunakan kata-kata yang telah dipelajari dalam permainan. Namun ada satu cara yang paling mudah untuk siswa olah adalah penggunaan alat peraga dan gambar. Gambar merupakan stimulus yang sangat berperan dalam mengarahkan pikiran dan imajinasi siswa terhadap suatu tema atau persoalan tertentu. Menulis dengan menggunakan gambar sebagai media sangat sesuai dengan perkembangan siswa seperti yang telah dikatakan bahwa mereka adalah kelompok yang emosional dan agresif.

Metode ini yang sering saya terapkan dalam kegiatan belajar mengajar di kelas khususnya menyangkut kemampuan menulis. Sedangkan kemampuan berbahasa lainnya seperti berbicara, siswa diarahkan untuk membuat percakapan sendiri. Siswa diberikan satu topik yang berhubungan dengan tema yang sedang dipelajari untuk menciptakan sendiri dialog baik secara individu maupun secara kolektif kemudian didemonstrasikan di depan kelas dengan memperhatikan penggunaan kosa kata, intonasi, lafal, dan relevansi serta keterpaduan tema yang dibicarakan. Di samping tema, gambar, dan media yang disediakan sangat membantu siswa dalam mengembangkan satu topik dengan mudah. Pendekatan seperti ini perlu diterapkan oleh seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris dalam mengajar.

Oleh: musmuliadi | April 1, 2010

Total Physical Response Method

Bahasa merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dan memiliki peran sentral, khususnya dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional seseorang dan dalam mempelajari semua bidang studi. Bahasa diharapkan bisa membantu seseorang dalam hal ini yang saya bicarakan adalah peserta didik untuk mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginative dalam dirinya.
Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan seorang guru atau instruktur dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya seperti metode diskusi, ceramah, Inquiry dan lain-lain. Saya ingin memperkenalkan salah satu metode yakni metode TPR (Total Physical Response) sebagai salah satu teknik penyajian dalam pengajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa asing, baik itu bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain.
Metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran, sehingga dikuasai oleh peserta didik dengan kata lain ilmu tentang guru mengajar dan murid belajar.
1.Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)
Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:
“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”.
Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).
Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.
Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.
Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.
Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.
2.Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
a.Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
b.Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
c.Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
d.Presentasi dengan OHP atau LCD
e.Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.
3.Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
1.Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
2.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
3.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.
Demikian tenBahasa merupakan kunci penentu menuju keberhasilan dan memiliki peran sentral, khususnya dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional seseorang dan dalam mempelajari semua bidang studi. Bahasa diharapkan bisa membantu seseorang dalam hal ini yang saya bicarakan adalah peserta didik untuk mengenal dirinya, budayanya dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, menemukan serta menggunakan kemampuan-kemampuan analitis dan imaginative dalam dirinya.
Ada beberapa macam metode yang biasa digunakan seorang guru atau instruktur dalam meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya seperti metode diskusi, ceramah, Inquiry dan lain-lain. Saya ingin memperkenalkan salah satu metode yakni metode TPR (Total Physical Response) sebagai salah satu teknik penyajian dalam pengajaran khususnya dalam pembelajaran bahasa asing, baik itu bahasa Inggris, Jepang, Perancis, dan lain-lain.
Metode pembelajaran adalah suatu ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menyampaikan bahan pelajaran, sehingga dikuasai oleh peserta didik dengan kata lain ilmu tentang guru mengajar dan murid belajar.
1.Pengertian Metode TPR (Total Physical Response)
Menurut Richards J dalam bukunya Approaches and Methods in Language Teaching, TPR didefinisikan:
“a language teaching method built around the coordination of speech and action; it attempts to teach language through physical (motor) activity”.
Jadi metode TPR (Total Physical Response) merupakan suatu metode pembelajaran bahasa yang disusun pada koordinasi perintah (command), ucapan (speech) dan gerak (action); dan berusaha untuk mengajarkan bahasa melalui aktivitas fisik (motor).
Sedangkan menurut Larsen dan Diane dalam Technique and Principles in Language Teaching, TPR atau disebut juga ”the comprehension approach” atau pendekatan pemahaman yaitu suatu metode pendekatan bahasa asing dengan instruksi atau perintah.
Metode ini dikembangkan oleh seorang professor psikologi di Universitas San Jose California yang bernama Prof. Dr. James J. Asher yang telah sukses dalam pengembangan metode ini pada pembelajaran bahasa asing pada anak-anak. Ia berpendapat bahwa pengucapan langsung pada anak atau siswa mengandung suatu perintah, dan selanjutnya anak atau siswa akan merespon kepada fisiknya sebelum mereka memulai untuk menghasilkan respon verbal atau ucapan.
Metode TPR ini sangat mudah dan ringan dalam segi penggunaan bahasa dan juga mengandung unsur gerakan permainan sehingga dapat menghilangkan stress pada peserta didik karena masalah-masalah yang dihadapi dalam pelajarannya terutama pada saat mempelajari bahasa asing, dan juga dapat menciptakan suasana hati yang positif pada peserta didik yang dapat memfasilitasi pembelajaran sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi siswa dalam pelajaran tersebut. Makna atau arti dari bahasa sasaran dipelajari selama melakukan aksi.
Guru atau instruktur memiliki peran aktif dan langsung dalam menerapkan metode TPR ini. Menurut Asher ”The instructor is the director of a stage play in which the students are the actors”, yang berarti bahwa guru (instruktur) adalah sutradara dalam pertunjukan cerita dan di dalamnya siswa sebagai pelaku atau pemerannya. Guru yang memutuskan tentang apa yang akan dipelajari, siapa yang memerankan dan menampilkan materi pelajaran.
Siswa dalam TPR mempunyai peran utama sebagai pendengar dan pelaku. Siswa mendengarkan dengan penuh perhatian dan merespon secara fisik pada perintah yang diberikan guru baik secara individu maupun kelompok.
2.Bentuk Aktivitas dengan Metode TPR dalam PBM (Proses Belajar Mengajar).
Dalam proses belajar mengajar dengan menggunakan metode TPR ini banyak sekali aktivitas yang dapat dilakukan oleh guru dan siswa antara lain:
a.Latihan dengan menggunakan perintah (Imperative Drill ), merupakan aktivitas utama yang dilakukan guru di dalam kelas dari metode TPR. Latihan berguna untuk memperoleh gerakan fisik dan aktivitas dari siswa.
b.Dialog atau percakapan (conversational dialogue).
c.Bermain peran (Role Play), dapat dipusatkan pada aktivitas sehari-hari seperti di sekolah, restoran, pasar, dll.
d.Presentasi dengan OHP atau LCD
e.Aktivitas membaca (Reading) dan menulis (Writing) untuk menambah perbendaharaan kata (vocabularies) dan juga melatih pada susunan kalimat berdasarkan tenses dan sebagainya.
3.Teori pembelajaran TPR
Teori pembelajaran bahasa TPR yang diterapkan pertama kali oleh Asher ini mengingatkan pada beberapa pandangan para psikolog, misalnya Arthur Jensen yang pernah mengusulkan sebuah model 7-langkah unutk mendeskripsikan perkembangan pembelajaran verbal anak. Model ini sangat mirip dengan pandangan Asher tentang penguasaan bahasa anak. Asher menyajikan 3 hipotesa pembelajaran yang berpengaruh yaitu:
1.Terdapat bio-program bawaan yang spesifik untuk pembelajaran bahasa yang menggambarkan sebuah alur yang optimal untuk pengembangan bahasa pertama dan kedua.
2.Lateralisasi otak menggambarkan fungsi pembelajaran yang berbeda pada otak kiri dan kanan.
3.Stres mempengaruhi aktivitas pembelajaran dan apa yang akan dipelajari oleh peserta didik, stress yang lebih rendah kapasitasnya maka pembelajaran menjadi lebih baik.
Demikian tentang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.
tang metode pembelajaran TPR yang mungkin terdengar asing di telinga anda. Metode TPR ini bukanlah metode baru yang sekiranya lebih baik diantara metode-metode pembelajaran yang lain. Namun, ada baiknya menurut saya jika seorang instruktur atau guru mempergunakan metode ini karena metode ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan motivasi belajar anak terutama dalam bahasa.

Oleh: musmuliadi | Februari 28, 2009

Common poblems faced by students

Problems with learning English commonly experienced by Indonesian students.
After a great deal of time spent teaching in Indonesia and talking to other teachers, it is clear that it is possible to identify a number of challenges specific to Indonesian language learners. While this brief article is clearly generalising about a huge, diverse nation, there do seem to be common difficulties, mostly resulting from interference from their first language and from the education system which they have been through. This article will highlight some of these challenges in the hope that awareness among both teachers and students benefit students studying English in the future.
First, the Indonesian education system (or at least the system which today’s teenage and adult language learners passed through) tends to produce students with preconceived notions of ways to be taught. Often this means passive learners expecting to absorb information from the teacher, who is the center of a class, an authority figure, and someone who must not be questioned. Language learning is most effective in an environment where active students feel free to participate, get involved and ask questions; an environment where students know that making mistakes is the best way to learn, and where making a mistake does not result in loss of face.
While this article is not intended to criticise the education system in Indonesia, it does seem that the content of a great deal of Indonesian schools’ English language curriculum is based on the teaching of theoretical knowledge as opposed to developing functional, communicative language skills. Often this means that the Indonesian ESL student is able to produce complex grammatical forms, but has little awareness of the actual meaning of the language they are producing. Upon prompting, a student would be able to write a correct sentence using, for instance, the present perfect continuous tense, but when questioned as to the real usage and the meaning of the grammatical form, many high school graduates are stumped.
Then there are the problems resulting from L1 (first language) interference. In terms of pronunciation, many Indonesians have trouble pronouncing consonant clusters (3 or more consonants together is a word), as these clusters do not occur in Bahasa Indonesia. The rolling of the letter ‘r’ is another common issue, but not one which causes any kind of strain for the listener. In general, pronunciation is not a huge problem for Indonesians, especially when compared to learners from Asian countries with tonal languages such as China and Vietnam.
Bahasa Indonesia does not have tenses as such, and a simplified method of talking about different points in time is often attempted in English (for example, ‘yesterday I go’). The concept of tenses, especially the more complex perfect tenses, is often difficult to grasp for Indonesian students. Similarly, Indonesian English students often have trouble creating sentences with correct word order, again caused by the word order patterns in their first language (for example, ‘the tree big’). Finally, most Indonesian words are spelled phonetically, creating problems with learning the inconsistent, almost random way in which many English words are spelled.
While the few problems mentioned above do create barriers for Indonesians, they are relatively easy to overcome. Good teachers with an awareness of these difficulties can adjust the way they teach and the materials they use to suit Indonesians. Courses can be created which have Indonesian students in mind, rather than generic courses designed for European learners. Again generalising, it can also be said that, given the right environment and encouragement, Indonesians soon become active, communicative students. Indonesians are hard working, dedicated, enthusiastic and, in general, a pleasure to teach.
One school which recognises the importance of tailoring language education to suit Indonesians is ‘Aim for English’ http://www.aimjakarta.com, a pioneering Jakarta-based language centre. Their incredible facilities, custom-designed courses and experienced teachers all combine to provide the very best language education for Indonesians.

Oleh: musmuliadi | Juni 26, 2008

Cara Mempelajari 4 Skill dalam Bhs. Inggris

1. How to learn LISTENING

  • Listen to the radio
    Don’t always have a pen in hand. Sometimes it helps to just listen.
  • Watch English TV
    Children’s programming is very useful for ESL learners.
    Choose programs that you would enjoy in your own language.
    Remember that much of what you hear on TV is slang.
  • Call Automated Answering Machine recordings
    You can find these numbers at the front of telephone books in many English-speaking countries. Before you dial, make sure that you are calling the free numbers.
  • Watch movies
    Choose ones with subtitles, or one from ESLNotes.com (provides useful notes on popular movies).
  • Use Internet listening resources
    Every day there are more and more places to listen to English online.
  • Useful Listening links:
    EnglishClub.com English Listening
    More listening tips

2. How to learn SPEAKING and pronunciation

  • Talk to yourself
    Talk about anything and everything. Do it in the privacy of your own home. If you can’t do this at first, try reading out loud until you feel comfortable hearing your own voice in English.
  • Record your own voice
    This might feel very uncomfortable, but it will help you find your weak pronunciation points. Listen to yourself a few days later. Which sounds do you have difficulty hearing?
  • Use the telephone.
  • Participate in class
  • Learn common idioms
  • Understand the sounds that your language doesn’t have
    For example, many languages don’t have the “r” sound. These sounds require extra practice.
  • Recognize that teachers are trained to understand you
    When you get out into the real world, average people will have a more difficult time understanding you unless you practise speaking slowly and with proper pronunciation.
  • Practise minimal pairs
  • Study word and sentence stress
  • Practice tongue twisters
  • Useful Speaking links:
    EnglishClub.com English Speaking
    EnglishClub.com English Pronunciation
    Speaking tips
    More speaking tips

3. How to learn READING and vocabulary

  • Read something every day
    Children’s books, simplified readers (Penguin), newspapers, magazines, Internet sites, novels, and much much more…
  • Read what interests you.
    Remember that you learn better when you are having fun.
  • Read at the appropriate level
    You want to learn new vocabulary, but you also want to understand what you are reading. If you are looking up every word, the reading is too difficult.
  • Review Who, What, Where, When, Why for each story you read
    You can do this for almost any type of reading. Who is it about? What happened? Why did it happen? Where did it take place? When did it take place? This is very useful when you have no comprehension questions to answer. You can write or speak your answers.
  • Always have an English-English dictionary nearby
    It is a bad habit to always rely on a translation dictionary or electronic dictionary.
    Think of your English-English dictionary as your life line.
    Use online dictionaries when you are using the Internet (keyword online dictionary).
  • Record vocabulary in a personal dictionary
    • Keep this notebook separate from other work
    • Record vocabulary in alphabetical order (an English address book works well because it has letters of the alphabet)
    • Record the part of speech (sometimes there is more than one)
    • Write a sample sentence for yourself (don’t use the one from the dictionary)
    • Review your personal dictionary (especially new entries) every night before bed
  • Useful Reading links:
    EnglishClub.com English Reading
    EnglishClub.com English Vocabulary
    More reading tips

4. How to learn WRITING and spelling

  • Keep a diary/journal
    Don’t always pay attention to grammar. Free-writing can be very useful. It can show you that writing is fun. Have fun with the language.
  • Write emails in English
    Stay in contact with teachers or other students.
  • Rewrite your local news in English
    This is another exercise that can be done on a daily basis. Remember that regular activities are the best ones.
  • Learn important spelling rules
    Remember, you won’t always have a dictionary or a spell-checker handy, especially when you are writing a test. Even native English speakers need to review the spelling rules from time to time.
Oleh: musmuliadi | Juni 26, 2008

Tips Belajar Bahasa Inggris

Don’t be afraid of grammar

  • Grammar is for communication
    Sometimes students get obsessed with grammar. This is especially true for students who grew up with strict grammar schooling. Remember that you only study grammar in order to communicate. Practise with a few exercises, then write an essay or have a conversation and try to use your new tools.
  • Isolate your weak points
    Don’t waste time on grammar exercises that you already understand just because they are easier for you. Concentrate on grammar that is difficult for you. If you are unsure of where your problems are, write a few short essays or paragraphs and ask a teacher to circle repeated errors. Then you can look up your problem and practise it.
  • Teach grammar points to a friend
    Find a friend who studies at a lower level than you. Teaching will force you to remember the rules and to understand them properly. Try preparing a worksheet for your friend.Useful Grammar links:
    EnglishClub.com English Grammar
    Gramar is your friend
    Grammar Safari

Improve your homework skills

  • Stay organized. Keep separate notebooks for exercises, writing, and vocabulary.
  • Use a pen that you love.
  • Study in short, regular periods.
  • Allow a short amount of time for review.
  • Study in a place where you feel happy and comfortable.
  • Don’t allow distractions. Consider email, TV, and the telephone (unless in English) off limits while you are studying.
  • Have a drink and snack handy so that you don’t have to get up.
  • If you study in pairs or groups, make an English-only rule.

Visit an English-Speaking Country

  • Take a language holiday.
  • Stay with a homestay family.
  • Learn from native English teachers.
  • Gain access to English culture.
  • Get a part-time job.
  • Volunteer.
  • Make native English friends.
  • Make friends with people from other countries.
  • Become more confident.
  • Hire a tutor.
  • Offer language lessons/swap in your own native tongue.
  • Useful links:
    Language Holidays
    Homestay
    English Schools Guide

Prepare for a standardized test such as TOEIC or TOEFL

  • Qualify for a better job in your country (TOEIC).
  • Get accepted to an American college or university (TOEFL).
  • Use guided-study text books.
  • Study a broad range of whole language.
  • Track your improvement easily (test scores).
  • Learn idiomatic language.
  • Learn business English (TOEIC).
  • Improve your vocabulary quickly.
  • Take classes and get access to many listening exercises.
  • Challenge yourself to improve your score.
  • Learn and practise proper essay format (TWE/NEW TOEFL).
  • Become a grammar expert.
  • Improve your general knowledge.
  • Useful links:
    ESL Exams
    TOEFL Tips and Practice
    TOEIC Tips and Practice
    Official Cambridge site
    Official TOEFL site
    Official TOEIC site

Fun with English Ideas

  • Have an English-only evening once a week. Cook in English (rewrite your recipe in English) or watch English movies.
  • Write an English love letter. (If your loved one doesn’t understand English that’s even better!)
  • Write English limericks. (These are excellent and simple for writing, pronunciation and rhythm practice.)
  • Rewrite fairytales, jokes or instructions in English.
  • Go out and pretend you don’t understand your native language (try to get by in only English).
  • Go online and find the lyrics to your favourite English songs and sing along to them (use a search engine).
  • Learn the words to English national anthems. Sing along when you hear them on TV (sporting events).
  • Invent an English character for yourself (with job, family, etc). Write this person’s biography.
  • Buy an English board game (like Monopoly or Scrabble).
  • Play cards in English.
  • Start up or join an English reading or conversation club.
  • Talk to yourself in English while you clean or do the dishes.
  • Go around the house and try to name everything in English (furniture, clothes etc). Look up words you don’t know.
Oleh: musmuliadi | Juni 26, 2008

Cara Belajar Bahasa Inggris bagi pemula

 

Tips for Beginners

  1. You are like a new baby
    Babies learn their language slowly.
    First they learn to listen.
    Then they learn to talk.
    Finally, they can read and write.
  2. Listen to English every day
    Listen to English radio.
    Watch English TV.
    Go to English movies.
    Use online lessons.
  3. Make an English/ESL friend
    Make up conversations.
    Practise dialogues.
    Use beginner textbooks.
  4. Read English stories
    Start with children’s storybooks.
    Try ESL readers.
    Read advertisements, signs and labels.
    Try EnglishClub.com for Young Learners.
  5. Write down new words
    Start a vocabulary (new word) notebook.
    Write words in alphabetical order (A…B…C…).
    Make example sentences.
    Always use an English-English dictionary first.
  6. Keep an English diary
    Start with one sentence.
    How do you feel?
    How is the weather?
    What did you do today?
    Write another sentence tomorrow.
  7. Visit an English speaking country
    Learn English more quickly.
    Stay with an English family.
    Hear native speakers talk.
    Have a fun experience.
Oleh: musmuliadi | Juni 26, 2008

Belajar bahasa Inggris dengan gembira

1. Perbanyak membaca buku, artikel, tulisan dalam bahasa Inggris.
Ingat, pertama-tama membaca pasti akan ada banyak kosa kata yang kita tidak kenal. Jangan menyerah. Artikan setiap kata dengan bantuan kamus, dan tulis arti kata tersebut di bawahnya. Percaya pada saya, dalam beberapa minggu, anda pun akan berhenti membuka kamus setiap 2 menit dalam membaca tulisan sejenis.

2. Perhatikan pengucapan kata.
Memang kadang sangat susah mengucapkan suatu kata bahasa Inggris dengan baik, tapi bukan berarti tidak mustahil. Jangan keras kepala dan mengucapkan suatu kata seperti halnya bahasa Indonesia. Logat tidak akan bisa hilang, tapi usahakan untuk memperhatikan pengucapan. Untuk ini yang pertama harus dilakukan adalah menguasai penguasaan abjad, dan kemudian perhatikan phonetik yang sering dicantumkan dalam kamus. Kalau masih juga bingung, bisa lihat di website Oxford English Dictionary . Penjelasan yang mereka berikan sangat jelas dan mudah dimengerti.

3. Perbanyak kosa kata anda.
Langkah pertama akan memperbanyak kosa kata anda secara tidak langsung, tapi tidak ada salahnya mendedikasikan 15 menit setiap hari untuk belajar kosa kata baru. Bisa dengan mengulang kosa kata yang didapat dari bacaan, berusaha mencerna lirik dalam musik, atau berusaha untuk menangkap dialog dalam film kesayangan. Tulis kosa kata yang anda pelajari di sebuah buku tulis khusus. Dengan begitu kosa kata tidak akan hilang dan anda akan menyadari kemajuan yang telah anda dapat. Bagi mereka yang memiliki akses email mudah, ikutilah milis Oxford English Dictionary yang akan mengirimkan satu kata dan artinya setiap hari.

4. Coba menulis dalam bahasa Inggris.
Tidak berarti harus langsung menulis karya sastra. Cukup kalimat-kalimat pendek, dan kemudian disusul dengan paragraph pendek. Lalu coba koreksi sendiri tulisan tersebut. Jangan selalu mengandalkan Word Spelling check, karena fungsi ini tidak bisa diandalkan untuk memeriksa kesalahan grammar.

Kuasailah grammar dasar dan ikuti peraturannya dengan telaten. Tidak perlu terburu-buru menulis kalimat yang panjang dan kompleks. Mulai dengan kalimat pendek dengan kosa kata yang simpel. Dengan berjalannya waktu, penguasaan grammar dengan baik dan timbunan kosa kata di bank memori anda, anda pun akan bisa menghasilkan sebuah cerpen atau blog dalam bahasa Inggris. :)

5. Cari teman ngobrol dalam bahasa Inggris
Pasti banyak teman anda yang juga sedang berjuang mempelajari bahasa Inggris, kenapa tidak belajar bareng-bareng? Ajak teman anda untuk meluangkan waktu berbicara bahasa Inggris dengan anda, entah sekedar ngegosip, membaca dialog atau cerita, atau berdiskusi. Kalau malu, cari tempat dan waktu dimana anda tidak akan diganggu, taman kota, lorong kampus atau kamar kost.

Kalau enggan, latihan saja sendiri di kamar. Lafalkan kata-kata dalam bahasa Inggris atau baca novel kesayangan dengan lantang. Dengan melantunkan sebuah lagu kita pun jadi gampang mengingatnya. Sama dengan tulisan, dengan melantunkan sebuah puisi, kita pun akan mengingat bait-baitnya dengan lebih mudah.

6. Artikan lagu kesayangan anda.
Setiap orang pasti mempunyai lagu kesayangan. Kalau kebetulan lagu kesayangan anda dalam berbahasa Inggris, kenapa tidak coba diartikan? Akan bisa lebih menghayati lagu tersebut, dan anda pun akan menambah bank kosa kata.

7. Coba menonton film berbahasa Inggris tanpa membaca terjemahan.
Pertama-tama akan membuat pusing kepala, tapi latihan ini sangat penting. Otak anda pun akan terlatih untuk ter-set dalam bahasa Inggris. Bisa berpikir dalam bahasa Inggris akan membantu ketika anda harus mendengarkan, berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris.

Older Posts »

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.